Sikap Tangan Saat Sembahyang

Om Swastiastu
Umat Sedharma yang berbahagia, Di era globalisasi ini masyarakat cenderung lebih memilih gaya hidup yang serba mewah. Hal ini sedikit tidaknya juga diakibatkan oleh perkembangan jaman maupun perkembangan teknologi. Oleh karena itu, kebanyakan masyarakat rela menghabiskan waktu untuk bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat primer (pokok), skunder (kebutuhan hidup tingkat kedua), maupun yang bersifat tersier (mewah). Kebutuhan hidup akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan jaman yang sudah semakin maju. Kebutuhan hidup yang sesungguhnya masih bisa ditunda menjadi semakin didahulukan karena kebanyakan orang masih belum merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Melihat hal tersebut dapat kita diketahui bahwa kesadaran para masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat beragama sudah mulai menurun. Walaupun bekerja adalah suatu hal yang wajib dalam kehidupan, alangkah baiknya jika waktu bekerja dan waktu sembahyang dapat diseimbangkan. Jika waktu sembahyang dan bekerja sudah seimbang, itu berarti bahwa seseorang akan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Karena, setelah melakukan ritual persembahyangan, para umat beragama akan merasa lebih tenang dalam melakukan aktivitas keseharian yang sering kali menimbulkan kejenuhan dan membuat pikiran menjadi sumpek/stress.
Dalam melaksanakan persembahyangan tersebut, umat sedharma sekalian sangat penting untuk tau bagaimana sikap tangan yang benar dan sikap tangan yang baik itu seperti apa? Dewasa  ini kita lihat kebanyakan orang ke pura sembahyang atau berdoa kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa hanya sebatas formalitas, dengan mencangkupkan tangan tanpa tau arti dari mencangkupkan tangan dan kemudian banyak pula yang tidak tau bagaimana sikap tangan yang benar  saat melakukan persembahyangan. Hal ini disebabkan karena umat menyepelekan hal kecil itu seperti contohnya saat tri sandya ada banyak sikap tangan yang keliru, kemudian ada cangkupan tangannya yang renggang, posisi tangan yang tidak tepat dan masih banyak hal-hal lain seputar kekeliruan sikap tangan dalam sembahyang. Mungkin diantara kalian semua juga ada yang seperti itu, oleh sebab itu penting bagi saya untuk menyampaikan dan menekankan seberapa penting sikap tangan yang benar saat sembahyang ini.
Baiklah umat sedharma yang berbahagia, sikap tangan dalam bersembahyang ada beberapa jenis yaitu diantaranya yang sering dipergunakan adalah anjali dan amusti karana.  Anjali adalah cakupan kedua belah telapak tangan yang digunakan sebagai salam ataupun pada saat sembahyang. Jika cakupan tangan didepan dada berarti salam untuk sesama, ujung tangan didepan hidung sebagai sembah pada leluhur, tangan diatas ubun-ubun adalah sembah pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kemudian sikap tangan yang benar saat memuja ista dewata adalah mencakupkan kedua telapak tangan dengan jari-jari rapat dan kedua ibu jari ada di “tengahing lelata”, yaitu diantara kedua alis, karena di tempat itu disebut trinetra, yaitu “mata ketiga Siwa”. Siwa yang mempunyai trinetra dipuja oleh penganut Hindu sekta Siwa Siddhanta (Hindu yang ada di Bali/ Indonesia kini). Cakupan tangan memiliki makna yang amat mendalam, yang merupakan cermin kedalaman filsafat Hindu. Makna cakupan tangan yang mendalam ini dapat kita jumpai dalam kekawin Arjuna Wiwaha:
Om Sembah ninganata tinghalana de Tri Loka sarana
Wahyadyatmika sembahingulun ijong ta tan hana waneh
Sang iwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadi kita
Sang Saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinahayu
.
Terjemahan:
Om sembah hamba yang hina ini, saksikanlah wahai penguasa ketiga dunia, Lahir batin sembah hamba kehadapan-Mu tiada henti-hentinya, Engkau bagaikan api didalam kayu, bagaikan minyak didalam santan, Engkau menampakkan diri jika ada orang yang memutar kesadaran menuju kerahayuan.
Jika kita cermati nampaknya sang kawi ingin menuangkan sembah yang lahir batin kedalam karya sastranya. Bagaimana sebuah cakupan tangan yang bermakna Wahyadyatmika (lahir dan batin) inilah yang perlu kita ketahui bersama. Kedalaman batin dari seorang Mpu Kanwa memang tak perlu diragukan lagi, terlebih-lebih memancarnya sifat sundaram atau keindahan rasa yang tertuang dalam bait kekawinnya mampu membawa siapa saja merasakan sentuhan rasa agama.
Telapak tangan sebagaimana diketahui adalah bagian penting dari badan (buana alit), yang memiliki fungsi yang sangat penting. Telapak tangan kiri biasanya digunakan untuk membersihkan kotoran setelah buang air, atau untuk memungut sampah-sampah yang menjijikkan, bau busuk dan sebagainya. Sedangkan tangan kanan digunakan untuk makan, menyalami orang lain, mengambil yang sifatnya bersih dan suci. Sepasang tangan ini saling bekerjasama dengan tidak pernah saling tuntut, walaupun tangan kiri selalu digunakan untuk mengambil yang kotor namun ketika ada cincin atau jam tangan pastilah tangan kiri yang mendapatkannya.
Dalam ajaran kebatinan Hindu disebutkan bahwa tangan kiri aksaranya adalah Ang yang merupakan simbul dari Ibu Pertiwi (Shakti). Tangan kanan aksaranya adalah Ah, yang merupakan simbul dari Bapa Akasa (Siwa). Shakti adalah potensi jasmaniah, Siwa adalah potensi rohani. Dengan mencakupkan kedua telapak tangan maka berarti telah menyatukan Ang Ah (Pertiwi - Akasa).
Ketika Bumi dan Langit bersatu maka terjadilah kehidupan. Bersatunya Ang Ah melahirkan aksara Om maka terciptalah semua yang ada, Didalam mantram Tri Sandhya disebutkan “Om Narayana ewedham sarvam” (Om Narayana Engkau adalah semua ini). Dengan demikian semua ini adalah Narayana yang lahir dari Siwa-Shakti. Ternyata walaupun tidak diucapkan cakupan tangan tetaplah berbunyi Om. Simbul dan pernyataan yang dua menjadi satu, Purusa dan predana, Siwa dan Shakti, laki-perempuan, Cetana Acetana, gelap-terang, inilah makna dari cakupan tangan yang lahir dan Batin (wahyadyatmika).
Amusti Karana
Kemudian sikap tangan yang kedua adalah amusti karana. Musti artinya tangan dikepal, amusti berarti mengambil sikap tangan Mudra. Mudra itu sendiri berarti gerakan tangan rahasia yang berfungsi sangat sakral. Amusti karana artinya Mudra penyebab. Yang dimaksud dengan Mudra penyebab atau Amusti Karana adalah mempertemukan kedua Ibu jari dan telunjuk tangan kanan, dengan tangan kanan mengepal, dan kepalan tangan kanan dipegang atau disusun dengan telapak tangan kiri, sehingga membentuk seperti sebuah segitiga.
Segitiga ini melambangkan Tri Murti. Sudut yang terbentuk dari telunjuk tangan kanan dan jempol tangan kiri (sudut kiri) adalah Brahma aksaranya Ang, yang merupakan penyebab lahir, Sudut yang terbentuk dari telunjuk dan jempol kanan (sudut kanan) adalah Wisnu aksaranya Ung yang merupakan penyebab Hidup. Sedangkan sudut yang terbentuk dari kedua ibu jari adalah Iswara atau Rudra aksaranya Mang yang merupakan penyebab kematian.
Dengan demikian melakukan gerak amustiakarana berarti sudah memuja Tri Murti Brahma, Wisnu, Iswara atau Rudra, atau Ang Ung Mang yang tidak lain adalah Om. Yang lahir pasti akan hidup sebelum kemudian menjemput ajalnya. Inilah hukum rta, hukum alam tertinggi yang patut disadari.
Baiklah umat sedharma yang berbahagia, dengan kita mengetahui konsep dan tattwa yang benar mengenai sikap tangan dalam melakukan sembahyang maka akan menambah keyakinan atau srada kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Dimana kita meyakini bahwa Tuhan akan memberikan berkahnya kepada kita, kemudian kita juga akan merasa lebih nyaman tenang dan tentram ketika menyelesaikan persembahyangan. Bila kita tidak mengetahui tattwa yang benar dalam melaksanakan persembahyangan dan berdampak pada sikap tangan kurang tepat maka akan mempengaruhi tingkat keyakinan seseorang dalam bersembahyang sehingga kita akan merasakan ada yang kurang dalam persembahyangan itu.
Umat sedharma yang berbahagia, perlu saya tekankan sekali lagi bahwa anjali adalah cakupan kedua belah telapak tangan yang digunakan ketika menyampaikan salam ataupun persembahyangan. Jika cakupan tangan didepan dada berarti salam untuk sesama manusia, ujung tangan didepan hidung sebagai sembah pada leluhur, tangan diatas ubun-ubun adalah sembah pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kedua ibu jari ada diantara kedua alis untuk sembah pada Ista Dewata. Dalam hindu tangan kiri berarti ang (simbul ibu pertiwi) dan tangan kanan berarti ah simbul dari bapa akasa. Dengan mencangkupkan kedua tangan berarti telah menyatukan ang dan ah (Pertiwi - Akasa). Sedangkan Amusti Karana adalah mempertemukan kedua Ibu jari dan telunjuk tangan kanan, dengan tangan kanan mengepal, dan kepalan tangan kanan dipegang telapak tangan kiri, sehingga membentuk seperti sebuah segitiga. Dimana segitiga ini melambangkan Tri Murti (Brahma, Wisnu Iswara atau Rudra)
Melihat pentingnya kita melakukan sikap tangan yang benar sesuai tattwanya seperti yang tertuang dalam lontar wedaparikrama (anjali saat keramaning sembah  dan amusti karana saat tri sandya), apabila kita masih keliru dalam bersembahyang maka marilah kita bersama-sama memperbaiki keliruan kita dalam melakukan persembahyangan selama ini dan menggunakan sikap tangan  yang benar sesuai ajaran agama hindu supaya memperoleh kebahagiaan di dunia ini atau istilah sanskertanya jagadhita ya ca iti dharama.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, kurang lebih saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan akhir kata saya tutup dengan parama santhi.

OM Santhi Santhi Santhi OM

Komentar

Posting Komentar